TUGAS
LAPORAN BUKU
PENGEMBANGAN KURIKULUM
Tentang

HAKIKAT KURIKULUM
MENURUT FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM

Oleh :
BENNY SAPRIMA
406 403

Dosen Pembimbing :
MARHAMAH, M.Pd

JURUAN TADRIS IPA (FISIKA)
FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUTE AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)
IMAM BONJOL PADANG
1430 H/2009 M

BAB I
PENDAHULUAN
Kemunculan dan perkembangan tradisi keilmuan, pemikiran, dan filsafat didunia islam tidak dapat dipisahkan dari kondisi lingkungan (kebudayaan dan peradaban) yang mengitarinya. Pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan filsafat islam mencapai puncaknya ketika dunia islam diperintah oleh para khalifah dari Dinasti bani Abbasiyah. Ketika itu ditandai dengan semaraknya penerjemahan manuskrip-manuskrip berbahasa Yunani kedalam bahasa Arab dan Parsi.
Seiring dengan perkembangan sejarah peradaban ummat manusia, filsafat terus berkembang dan selalu menjadi landasan berpijak yang konsisten terhadap kebanyakan disiplin ilmu. Tidak terkecuali sebagai landasan bagi ilmu pendidikan secara umum dan khususnya kurikulum pendidikan itu sendiri.
Banyak pemikiran dan landasan yang menjadi tempat berpijak suatu pemikiran tentang kurikulum. Bagaimana sebuah kurikulum itu dirancang, dijabarkan, ditranspormasikan dan diimplementasikan dalam proses pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan. Disini ilmu filsafat mempunyai peranan yang sangat urgen. Maka, selaku calon pendidik generasi muslim yang ingin menciptakan output-output manusia mukmin yang kaffah dalam menjalani kehidupannya sesuai dengan tuntunan islam, ada baiknya kita meninjau lebih jauh tentang seperti apa dan bagaimana sebaiknya pengembangan kurikulum itu menurut pandangan filsafat pendidikan islam.
Dalam mata kuliah pengembangan kurikulum, kita telah banyak mendapatkan ilmu pengetahuan berkenaan dengan bagaimana dan seperti apa baiknya pengembangan kurikulum pendidikan itu. Seperti yang kita ketahui bersama, bahwa pada dasarnya dalam islam tidak ada yang namanya dikotonomi ilmu. Semua ilmu dianggap baik apabila ilmu itu menjadikan kita lebih dekat kepada sang Khalik. Begitu juga halnya dengan pengembangan kurikulum yang kita pelajari selama ini. Kita sadari bahwa pengembangan kurikulum di Negara kita repoblik Indonesia ini tidak pernah terlepas dari landasan filsafat pendidikan islam. Hal ini tentu saja dikarenakan Islam telah menjadi agama yang dianut oleh dominan masyarakat di Indonesia sudah sejak lama. Jadi, sudah pasti karakter dan ajaran islam tersebut menjalar keseluruh aspek kehidupan masyarakat hingga pada pengembangan kurikulum yang juga akan diterapkan bagi peserta didik.

Oleh karena itu, penulis tertarik untuk memilih buku karya bapak Prof. Dr. H. Samsul Nizar, M.A yang berjudul “filsafat pendidikan islam pendekatan histories, teoritis dan praktis” yang diterbitkan di Jakarta oleh Ciputat Pers pada tahun 2002, sebagai buku rujukan utama dalam tugas laporan buku.
Ketertarikan penulis dengan buku ini dikarenakan berbagai macam alasan. Diantaranya :
 Akan menjadi sangat menarik kiranya apabila penulis membahas lebih dalam tentang seperti apa sebaiknya pengembangan kurikulum menurut filsafat pendidikan islam.
 Kita bisa mencocokkan kajian dan pengetahuan kita selama ini tentang kurikulum yang dikembangkan di Indonesia dengan kurikulum yang baik menurut kajian filsafat pendidikan islam.
 Kecendrungan penulis yang menyukai kajian-kajian filsafat, terutama kajian filsafat pendidikan islam.
Seperti disampaikan oleh penulisnya bahwa buku ini sesungguhnya merupakan rujukan dalam mata kuliah Filsafat Pendidikan Islam pada Fakultas Tarbiyah. Hanya saja, meskipun konsumen utamanya buku ini adalah mahasiswa Fakultas Tarbiyah tapi tidak menutup kemungkinan bagi kajian pada fakultas lain.
Setelah kita meninjau secara umum tentang isi dari buku ini, yang topik bahasan salah satunya adalah : ” Hakikat Kurikulum Menurut Filsafat Pendidikan Islam “. Dari itu, muncul didalam fikiran kita seperti pertanyaan-pertanyaan yang mengarah kepada topik yang diangkatkan. Seperti :
1. Seperti apa sesungguhnya kurikulum pendidikan islam itu ?
2. Apa saja komponen yang menjadi landasan atau asas dalam kurikulum pendidikan islam ?
3. Bagaimana karakteristik dari kurikulum pendidikan islam ?
Akhirnya, penulis sangat berharap semoga tulisan yang singkat ini bisa bermanfaat kepada kita semua, terutama bagi penulis sendiri.

BAB II
PEMBAHASAN
1. Arti Kurikulum Pendidikan Islam
Pendidikan islam secara fungsional adalah merupakan upaya manusia muslim merekayasa pembentukan al-insan al-kamil melalui penciptaan situasi interaksi edukatif yang kondusif. Dalam posisinya yang demikian, pendidikan adalah model rekayasa individual dan sosial yang paling efektif untuk menyiapkan dan menciptakan bentuk masyarakat yang ideal ke masa depan. Sejalan dengan konsep perekayasaan masa depan ummat, maka pendidikan islam harus memiliki seperangkat isi atau bahan yang akan ditranspormasikan kepada peserta didik agar menjadi milik dan kepribadiannya sesuai dengan idealitas islam. Untuk itu perlu dirancang suatu bentuk kurikulum pendidikan islam yang sepenuhnya mengacu pada nilai-nilai asasi ajaran islam. Dalam kaitan inilah diharapkan filsafat mampu memberikan kompas atau arah terhadap pembentukan kurikulum pendidikan yang islami.
Secara etimologi kurikulum berasal dari bahasa Yunani, yaitu curir yang artinya “pelari” dan curere yang berarti “jarak yang harus ditempuh oleh pelari”. Istilah ini pada mulanya digunakan dalam dunia olah raga yang berarti “a little racecourse” (suatu jarak yang harus ditempuh dalam pertandingan olah raga). Berdasarkan pengertian ini, dalam konteksnya dengan dunia pendidikan, memberikan pengertian sebagai “circle of instruction” yaitu suatu lingkaran pengajaran dimana guru dan murid terlibat didalamnya. Sementara pendapat yang lain dikemukakan bahwa kurikulum ialah arena pertandingan, tempat pelajar bertanding untuk menguasai pelajaran guna mencapai garis penamat berupa diploma, ijazah atau gelar keserjanaan.
Dalam kosa kata Arab, istilah kurikulum dikenal dengan kata manhaj yang berarti “jalan yang terang atau jalan terang yang dilalui oleh manusia pada berbagai kehidupannya”. Apabila pengertian ini dikaitkan dengan pendidikan, maka manhaj atau kurikulum berarti jalan terang yang dilalui pendidik atau guru latih dengan orang-orang yang dididik atau dilatihnya untuk mengembangkan pengetahuan, keterampilan dan sikap mereka.
Berdasarkan pengertian tersebut, dapat disimpulkan bahwa kurikulum itu adalah merupakan seperangkat rancangan tentang kegiatan belajar mengajar yang menjadi landasan yang digunakan pendidik untuk membimbing peserta didiknya kearah tujuan pendidikan yang diinginkan melalui akumulasi sejumlah pengetahuan, keterampilan dan sikap mental. Ini berarti proses kependidikan islam bukanlah suatu proses yang dapat dilakukan secara serampangan, tetapi hendaknya mengacu kepada konseptualisasi manusia paripurna (baik sebagai khalifah maipun ‘abd) melalui transformasi sejumlah pengetahuan, keterampilan dan sikap mental yang harus tersusun dalam kurikulum pendidikan islam. Disinilah peran filsafat pendidikan islam dalam memberikan pandangan filosofis tentang hakikat pengetahuan, keterampilan dan sikap mental yang dapat dijadikan pedoman dalam pembentukan manusia paripurna (al-insan al-kamil).
Pendapat para ahli tentang pengertian kurikulum :
 Franklin Bobbit
Kurikulum dapat dirumuskan sebagai keseluruhan pengalaman, baik pengelaman langsung maupun tidak langsung yang berkaitan dengan perkembangan kesanggupan-kesanggupan individu dan serangkaian pengalaman-pengalaman pendidikan yang dipergunakan oleh sekolah untuk menyempurnakan perkembangan peserta didik.
 Saylor dan Alexander
Kurikulum adalah semua usaha sekolah dalam mempengaruhi belajar siswa baik di dalam kelas, dihalaman sekolah, maupun diluar sekolah.
 Sarhan dan Kamil
Kurikulum adalah sejumlah pengalaman pendidik, sosial, budaya, olah raga dan seni yang disediakan sekolah bagi murid-muridnya didalam dan luar sekolah dengan tujuannya menolong untuk dapat mengembangkan semua potensi yang ada padanya sesuai dengan tujuan pendidikan.
 Qurah
Menegaskan bahwa kurikulum dalam pengertian modern adalah semua pengalaman dan aktivitas yang dialami dan dilaksanakan peserta didik, baik didalam ataupun diluar sekolah, dan merupakan tanggung jawab dan bimbingan sekolah untuk mencapai suatu tujuan yang diinginkan.
Berdasarkan beberapa pengertian kurikulum diatas, dapatlah dipahami bahwa sekolah atau lembaga pendidikanlah yang bertanggung jawab atas perencanaan semua pengalaman atau aktivitas yang akan dilalui peserta didik untuk mencapai suatu tujuan yang diinginkan.
Pada hakekatnya, kurikulum merupakan suatu cara dalam mempersiapkan peserta didik agar dapat belajar dengan baik dalam rangka mencapai tujuan pendidikan, sebagai mana yang diharapkan. Lebih jauh lagi, dengan perencanaan kurikulum yang matang diharapkan agar peserta didik dapat berprestasi sebgai anggota masyarakat yang selalu produktif.
Pendidikan islam adalah proses bimbingan secara sadar oleh guru terhadap peserta didik dalam rangka pengembangan dan pembinaan potensi (fitrah) yang dimilikinya, baik dari segi jasmani, rohani, maupun dari segi intelektual untuk menuju terbentuknya kepribadian yang sesuai dengan nilai-nilai ajaran islam.
Bertolak dari kurikulum secara umum dan pendidikan islam, sebagaimana dijelaskan diatas, maka dapat diformulasikan bahwa kurikulum pendidikan islam adalah semua kegiatan pengalaman yang dirancang dan disediakan oleh sekolah atau lembaga pendidikan islam untuk peserta didik, baik pengalaman disekolah maupun diluarnya, dalam rangka pengembangan dan pembentukan potensi (fitrah) yang dimilikinya secara optimal yang sesuai dengan tujuan pendidikan islam.
Sejalan dengan makna diatas maka tujuan pembinaan kurikulum adalah diperolehnya pelaksanaan kurikulum yang mantap. Dapat pula dikatakan bahwa tujuan pembinaan kurikulum adalah memperkecil atau meniadakan kesenjangan antara apa yang seharusnya dilaksanakan dengan apa yang dapat dilaksanakan. Dalam bahasa lain meniadakan atau memperkecil kesenjangan antara kurikulum potensial dengan kurikulum aktual.

2. Asas-asas Kurikulum Pendidikan Islam
Suatu kurikulum pendidikan, termasuk pendidikan islam, hendaknya mengandung beberapa unsur utama seperti tujuan, isi mata pelajaran, metode mengajar dan metode penilaian. Kesemuanya harus tersusun dan mengacu pada suatu sumber kekuatan yang menjadi landasan dalam pembentukannya. Sumber kekuatan tersebut dikatakan sebagai asas-asas pembentuk kurikulum pendidikan islam.
Mohammad al-Thoumy al-Syaibany dalam Samsul Nizar, mengemukakan bahwa asas-asas umum yang menjadi landasan pembentukan kurikulum dalam pendidikan islam itu adalah :
a. Asas Agama
Seluruh sistem yang ada dalam masyarakat islam, termasuk sistem pendidikannya harus meletakkan dasar falsafah, tujuan, dan kurikulumnya pada ajaran islam yang meliputi aqidah, ibadah, muamalat dan hubungan-hubungan yang berlaku didalam masyarakat. Hal ini bermakna bahwa semua itu pada akhirnya harus mengacu pada dua sumber utama syari’at islam, yaitu al-Qur’an dan Sunnah. Sementara sumber-sumber lainnya yang sering digolongkan oleh para ahli seperti ijma’, qiyas, kepentingan umum, dan yang dianggap baik (ihtisan), adalah merupakan penjabaran dari kedua sumber diatas. Pembentukan kurikulum pendidikan islam harus diletakkan pada apa yang telah digariskan oleh sumber-sumber tersebut dalam rangka menciptakan manusia yang bertaqwa sebagai ‘abd dan tegar sebagai khalifah Allah dimuka bumi.

b. Asas Falsafah
Dasar ini memberikan arah dan kompas tujuan pendidikan Islam, dengan dasar filosofis, sehingga susunan kurikulum pendidikan Islam mengandung suatu kebenaran, terutama dari sisi nilai-nilai sebagai pandangan hidup yang diyakini kebenarannya. Secara umum, dasar falsafah ini membawa konsekuensi bahwa rumusan kurikulum pendidikan Islam harus beranjak dari konsep ontology, epistimologi dan aksiologi yang digali dari pemikiran manusia muslim, yang sepenuhnya tidak bertentangan dengan nilai-nilai asasi ajaran islam.

c. Asas Psikologi
Asas ini memberi arti bahwa kurikulum pendidikan islam hendaknya disusun dengan mempertimbangkan tahapan-tahapan pertumbuhan dan perkembangan yang dilalui anak didik. Kurikulum pendidikan islam harus dirancang sejalan dengan ciri-ciri perkembangan anak didik, tahap kematangan bakat-bakat jasmani, intelektual, bahasa, emosi dan sosial, kebutuhan dan keinginan, minat, kecakapan, perbedaan individual dan lain sebagainya yang berhubungan dengan aspek-aspek psikologi.

d. Asas Sosial
Pembentukan kurikulum pendidikan Islam harus mengacu kearah realisasi individu dalam masyarakat. Pola yang demikian ini berarti bahwa semua kecendrungan dan perubahan yang telah dan bakal terjadi dalam perkembangan masyarakat manusia sebagai makhluk sosial harus mendapat tempat dalam kurikulum pendidikan Islam. Hal ini dimaksudkan agar Out put yang dihasilkan pendidikan Islam adalah manusia-manusia yang mampu mengambil peran dalam masyarakat dan kebudayaan dalam konteks kehidupan zamannya.
Keempat hal diatas juga senada dengan pemikiran Prof. Dr. Ramayulis, tentang azas-azas penyusunan kurikulum. Hanya saja beliau menambahkannya dengan :
e. Azas Organisatoris
Dasar ini memberikan landasan dalam penyusunan bahan pembelajaran beserta penyajiannya dalam proses pembelajaran beserta penyajiannya dalam proses pembelajaran.

Kelima azas tersebut diatas harus dijadikan landasan dalam pembentukan kurikulum pendidikan Islam. Perlu ditekankan bahwa antara azas satu dengan azas lainnya tidaklah berdiri sendiri, tetapi harus merupakan suatu kesatuan yang utuh sehingga dapat membentuk kurikulum pendidikan Islam yang terpadu, yaitu kurikulum yang relefan dengan kebutuhan pengembangan anak didik dalam unsur ketauhidan, keagamaan, pengembangan potensinya sebagai khalifah, pengembangan pribadinya sebagai individu dan pengembangannya dalam kehidupan sosial.
Berdasarkan pada azas-azas tersebut diatas, maka kurikulum pendidikan islam menurut An-Nahlawi dalam Samsul Nizar, harus pula memenuhi kriteria sebagai berikut :
 Sistem dan perkembangan kurikulum hendaknya selaras dengan fitrah insani sehingga memiliki peluang untuk mensucikannya, dan menjaganya dari penyimpangan serta menyelamatkan.
 Kurikulum hendaknya diarahkan untuk mencapai tujuan akhir pendidikan Islam, yaitu ikhlas, taat dan beribadah kepada Allah, disamping merealisasikan tujuan aspek psikis, fisik, sosial, budaya maupun intelektual.
 Pentahapan serta pengkhususan kurikulum hendaknya memperhatikan periodesasi perkembangan peserta didik maupun unisitas (kekhasan) terutama karakteristik anak-anak, dan jenis kelamin (laki-laki dan perempuan).
 Dalam berbagai pelaksanaan, aktivitas, contoh dan nash yang ada dalam kurikulum harus memelihara kebutuhan nyata kehidupan masyarakat dengan tetap bertopang pada cita ideal Islami, seperti rasa syukur dan harga diri sebagai ummat Islam.
 Secara keseluruhan struktur dan organisasi kurikulum hendaknya tidak bertentangan dan tidak menimbulkan pertentangan dengan pola hidup Islami
 Hendaknya kurikulum bersifat realistik atau dapat dilaksanakan sesuai dengan situasi dan kondisi dalam kehidupan suatu Negara tertentu.
 Hendaknya metoda pendidikan/pengajaran dalam kurikulum bersifat luwes sehingga dapat disesuaikan denga berbagai situasi dan kondisi serta perbedaan individual, minat serta kemampuan siswa untuk menangkap dan mengolah bahan pelajaran.
 Hendaknya kurikulum itu efektif dalam arti berisikan nilai edukatif yang dapat membentuk afektif (sikap) Islami dalam kperibadian anak.
 Kurikulum harus memperhatikan aspek-aspek tingkah laku amaliah Islami, seperti pendidikan untuk berjihad dan dakwah Islamiyah serta membangun masyarakat muslim di lingkungan sekolah.

Dari paparan diatas, terlihat bahwa eksistensi kurikulum idealnya disamping sebagai parameter operasionalisasi proses belajar mengajar, sekaligus- terutama-sebagai alat mendeteksi (meramal) dinamika kebudayaan dan peradaban ummat manusia masa depan. Eksistensinya sebagai futurolog (kajian yang akan datang) akan menjadikan kurikulum pendidikan sebagai alat yang efektif dalam menyiapkan bentuk pendidikan yang aplikatif dan apresiatif terhadap perkembangan kebudayaan, ilmu dan pengetahuan. Dalam hal ini, eksistensi kurikulum memainkan peranan yang cukup strategis dalam menganalisa persoalan yang akan terjadi, sehingga pola pendidikan akan lebih mengarah pada usaha preventif (pencegahan/antisipasi), bukan curatif (bantuan/pengobatan) sebagaimana yang terjadi saat ini. Indikasi terhadap kurikulum saat ini yang terkesan lebih pada nilai curatif adalah dengan menempatkan kurikulum sebagai pola parameter untuk menjawab dinamika yang telah atau sedang terjadi, bukan persoalan dan dinamika yang akan terjadi. Akibatnya, pendidikan senantiasa berada pada posisi yang tertinggal terhadap akselerasi zaman yang jauh lebih dinamis, sementara peserta didik pada posisinya yang pasif sebagai “kelinci percobaan”. Kondisi ini sekaligus menempatkan institusi pendidikan tak mampu memprediksi dinamika yang akan terjadi dan ikut secara aktif mempengaruhi dinamika tersebut, akan tetapi lebih terkesan bersifat pasif dan terpengaruh dengan akselerasi zaman yang demikian mengglobal.

3. Karakteristik Kurikulum Pendidikan Islam
Secara umum karakteristik kurikulum pendidikan Islam adalah pencerminan nilai-nilai islami yang dihasilkan dari pemikiran kefilsafatan dan termanifestasi dalam seluruh aktivitas dan kegiatan pendidikan dalam prakteknya. Dalam konteks ini harus dipahami bahwa karakteristik kurikulum pendidikan Islam senantiasa memiliki keterkaitan yang tidak dapat dipisahkan dengan prinsip-prinsip yang telah diletakkan Allah SWT dan Rasul-Nya, Muhammad SAW. Konsep inilah yang membedakan kurikulum pendidikan Islam dengan kurikulum pendidikan pada umumnya.
Menurut Al-Syaibany dalam Samsul Nizar, diantara ciri-ciri kurikulum pendidikan islam itu adalah :
 Mementingkan tujuan agama dan akhlak dalam berbagai hal seperti tujuan dan kandungan, kaedah, alat dan tekniknya.
 Meluasnya perhatian dan kandungan hingga mencakup perhatian, pengembangan serta bimbingan terhadap segala aspek pribadi pelajar dari segi intelektual, psikologi, sosial dan spiritual. Begitu juga cakupan kandungannya termasuk bidang ilmu, tugas dan kegiatan yang bermacam-macam.
 Adanya prinsip keseimbangan antara kandungan kurikulum tentang ilmu dan seni, pengalaman dan kegiatan pengajaran yang bermacam-macam.
 Menekankan konsep menyeluruh dan keseimbangan pada kandungannya yang tidak hanya terbatas pada ilmu-ilmu teoritis, baik yang bersifat aqli maupun naqli, tetapi juga meliputi seni halus, aktifitas pendidikan jasmani, latihan militer, teknik, pertukangan, bahasa asing dan sebagainya.
 Keterkaitan antara kurikulum dalam pendidikan islam dengan minat, kemampuan, keperluan dan perbedaan individual antar siswa. Disamping itu juga keterkaitannya dengan alam sekitar budaya dan sosial dimana kurikulum itu dilaksanakan.

Karakteristik kurikulum sebagai program pendidikan islam sebagaimana dikemukakan diatas selanjutnya tidak hanya menempatkan anak didik sebagai objek didik, melainkan juga sebagai subjek didik yang sedang mengembangkan diri menuju kedewasaan sesuai dengan konsepsi Islam. Karenanya kurikulum tersebut tidak akan bermakna apapun apabila tidak dilaksanakan dalam suatu situasi dan kondisi dimana tercipta interaksi edukatif yang timbal balik antara pendidik disatu sisi dengan peserta didik disisi lain. Disini terlihat ciri khas kurikulum pendidikan islam yang memandang peserta didik sebagai makhluk potensial untuk mengembangkan dirinya sendiri melalui berbagai aktifitas pendidikan. Pendidik dan seluruh komponen pendidikan lainnya, termasuk kurikulum, hanya merupakan media atau sarana yang harus menciptakan situasi dan kondisi yang memungkinkan bagi proses pengembangan totalitas potensi yang dimiliki peserta didik itu menuju kesempurnaan secara optimal.

BAB III
PENUTUP
Setelah kita mengkaji lebih dalam pemikiran dan bahasan yang diangkatkan dalam buku ini, yang secara rinci menjabarkan tentang Hakikat Kurikulum Menurut Filsafat Pendidikan Islam, maka kita dapat menarik beberapa kesimpulan yaitu :
1. Ada terdapat perbedaan yang sangat mendasar mengenai tujuan yang ingin dicapai dalam kurikulum pendidikan islam yaitu : menciptakan manusia yang mampu menjadi khalifah dimuka bumi Allah dan menjadi ‘abd Allah yang bertaqwa. Hal ini dikarenakan : Kurikulum pendidikan islam adalah semua kegiatan pengalaman yang dirancang dan disediakan oleh sekolah atau lembaga pendidikan islam untuk peserta didik, baik pengalaman disekolah maupun diluarnya, dalam rangka pengembangan dan pembentukan potensi (fitrah) yang dimilikinya secara optimal yang sesuai dengan tujuan pendidikan islam.

2. Asas atau landasan berpijak terhadap penyusunan kurikulum haruslah relefan dengan situasi dan kondisi yang universal. Untuk menciptakan sesuatu yang baik haruslah melihat dari sundut pandang yang berbeda-beda, sehingga dapat didapatkan kebenaran yang hakiki atau kebenaran yang berdiri diatas semua unsur atau golongan. Dari pemikiran tersebut muncullah beberapa komponen penting yang menjadi landasan berpijak terhadap pengembangan kurikulum. Seperti : asas agama, filsafat, psikologi, sosial dan organisatoris. Yang kesemua ini harus termaktub menjadi pandangan dan memberi warna pada kurikulum. Sehingga menjadi perhatian bagi kita agar dalam pengembangan kurikulum dimasa yang akan datang tidak mengabaikan salah satu unsurpun yang mesti ada dalam kurikulum. Sehingga, dengan demikian kurikulum yang dikembangkan benar-benar mampu menciptakan manusia unggul dari segala aspek.

3. Sebagai salah subtansi yang sangat diperhatikan dalam agama Islam ialah pendidikan. Tentu saja sebagai ajaran yang memiliki nilai-nilai yang sangat kuat dan mendasar, pendidikan islam khususnya kurikulum juga memiliki karakter khusus yang sangat kuat. Karakteristik kurikulum sebagai program pendidikan islam sebaiknya tidak hanya menempatkan anak didik sebagai objek didik, melainkan juga sebagai subjek didik yang sedang mengembangkan diri menuju kedewasaan sesuai dengan konsepsi Islam dan memiliki keterkaitan yang sangat kuat dengan al-Qur’an dan Sunnah. Kemudian, eksistensi dari sebuah kurikulum hendaknya mampu menjadi sebagai futurolog (kajian yang akan datang). Hal ini akan menjadikan kurikulum pendidikan sebagai alat yang efektif dalam menyiapkan bentuk pendidikan yang aplikatif dan apresiatif terhadap perkembangan kebudayaan, ilmu dan pengetahuan. Dalam hal ini, eksistensi kurikulum memainkan peranan yang cukup strategis dalam menganalisa persoalan yang akan terjadi, sehingga pola pendidikan akan lebih mengarah pada usaha preventif (pencegahan/antisipasi), bukan curatif (bantuan/pengobatan) sebagaimana yang terjadi saat ini.

DAFTAR KEPUSTAKAAN

Nizar, Samsul. Filsafat Pendidikan Islam Pendekatan Histories, Teoritis dan Praktis. (Jakarta : Ciputat Press, 2002)

Ramayulis. Ilmu Pendidikan Islam. (Jakarata : Kalam Mulia, 2006)

Sujana, Nana. Pembinaan Dan Pengembangan Kurikulum Disekolah. (Bandung : Sinar Baru Algensindo, 2002)

Zulmuqim. Filsafat pendidikan islam analisis filosofis mengenai spesifikasi kurikulum pendidikan islam. (Padang : Baitul Hikmah Press, 2004)

Tentang bennysaprima

"beni" orang biasa memanggil q, aq bangga dengan nama itu. aq dilahirkan di sebuah desa yang sangat indah dan nyaman. sebuah negeri pedalaman Aceh Selatan. aq bersyukur dengan keadaan q, makanya aq begitu bahagia.
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s